Kalau biasanya jagung cuma nongkrong sebagai jagung bakar, campuran sayur, atau camilan, Gorontalo punya cara yang jauh lebih unik buat mengolahnya. Namanya Binte Biluhuta, yang juga dikenal masyarakat setempat sebagai Milu Siram. Secara sederhana, binte berarti jagung, sedangkan biluhuta berarti disiram. Jadi, sesuai namanya, hidangan ini memang berupa jagung yang disiram kuah kaya rasa. Yang bikin beda, jagung bukan sekadar pelengkap, tetapi justru menjadi pemeran utamanya. Jagung dipadukan dengan ikan atau udang, kelapa parut, daun kemangi, cabai, bawang, dan perasan jeruk sehingga dalam satu mangkuk bisa muncul rasa gurih, pedas, segar, dan sedikit asam sekaligus.
1. Jagungnya bukan sekadar topping.
Dalam Binte Biluhuta, jagung menjadi fondasi utama hidangan. Beberapa versi tradisional menggunakan jagung pulut atau jagung lokal Gorontalo yang teksturnya lebih pulen dan tidak semanis jagung manis. Penelitian tentang jagung lokal Gorontalo juga mencatat bahwa jagung telah lama menjadi bagian penting dalam pangan masyarakat setempat.
2. Kuahnya punya karakter yang rame banget.
Ada ikan atau udang, kelapa parut, cabai, bawang, kemangi, serta jeruk nipis. Hasil akhirnya bukan kuah yang rasanya datar, tetapi kombinasi gurih, pedas, asam, dan aroma segar yang bikin tiap suapan terasa berbeda.
3. Cara penyajiannya justru bikin namanya masuk akal.
Binte Biluhuta punya proses yang berbeda dari sup pada umumnya. Komponen jagung dan bahan lainnya tidak selalu dimasak menjadi satu sejak awal. Kuah panas justru disiramkan ke racikan jagung dan bahan pendamping. Karena itu, sejumlah penggiat kuliner bahkan menilai hidangan ini lebih tepat dipahami sebagai “jagung siram” daripada sup biasa.
4. Ada unsur budaya yang ikut “masuk mangkuk”.
Binte Biluhuta bukan cuma makanan pengganjal lapar. Hidangan ini telah menjadi bagian dari tradisi kuliner Gorontalo dan tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak 2016.
Kalau dilihat dari sudut pandang ilmiah, komposisi Binte Biluhuta juga menarik karena mempertemukan sumber karbohidrat dari jagung dengan protein dari ikan atau udang serta lemak dan aroma dari kelapa. Penelitian terhadap jagung lokal momala Gorontalo menemukan kandungan karbohidrat sekitar 67,68–68,16 persen serta protein kasar sekitar 9,09–11,67 persen pada bahan jagung yang diteliti. Artinya, secara sederhana, jagung memang bisa berperan lebih serius sebagai sumber energi, bukan cuma bahan tambahan. Dari perspektif kuliner urban, pola seperti ini juga menarik karena satu mangkuk sudah menawarkan kombinasi tekstur dan rasa yang lengkap: ada sensasi pulen dari jagung, gurih dari ikan, creamy ringan dari kelapa, lalu “ditendang” cabai dan jeruk. Di tengah tren kuliner modern yang suka mengejar menu unik, Binte Biluhuta sebenarnya sudah punya konsep balanced bowl versi tradisional jauh sebelum istilah tersebut populer.
Pada akhirnya, Binte Biluhuta membuktikan kalau kuliner daerah Indonesia memang nggak ada habisnya buat dieksplor. Dari jagung yang kelihatannya sederhana, masyarakat Gorontalo berhasil menciptakan hidangan dengan karakter rasa yang kompleks dan cara penyajian yang beda. Bukan cuma enak, tapi juga punya cerita dan identitas yang kuat.